RSS Feed

Cap jae kampung Londo

Posted on
Setelah membaca resepnya Mbak Ine tentang cap cay kampung, membuat aku pengin mencoba bikin. Maklum, ini masalah memory di Semarang yang nggak pernah terlupakan. Dulu orang-orang menyebutnya cap jae, bukan can cay. Tapi terus terang walaupun keekian nya cuma trigu dan telur kok ya rasanya miroso tenan.

Terlampir gambar masakan cap jae ku. Menurutku sih enak ya. Karena saking kepinginnya bikin keekian kampung, aku yo bener-bener nyonto resep keekian nya mbak Ine, nggak ditambah, nggak dikurangi. Misalnya, tepung 150 gram, yo tak grami tenan kae. Airnya 30 cc, yo bener-bener aku ukur 30 cc pake gelas ukuran. Padahal biasanya kalau nyonto resep, yo aku ubah-ubah sak sukaku sesuai seleraku.

Tapi kalau sayuran dan masak cap jae nya, aku yo sesuaikan dengan seleraku dan tentu saja persediaan bahan di kulkas ku. Yang jelas, aku tambahi udang sedikit, tapi sedikit lho ya soalnya takut rasa kampungnya ilang. Selain itu, udang di sini rasanya rada hambar, nggak kayak udang di Indonesia. Lha yo gimana nggak hambar, wong aku pake udang beku. Udang kayak gini setahuku udang import. Sebelum diimport, pasti udangnya dikupas dulu, dimasak dulu, terus kuahnya dibuang, baru dikemas. Jadi ya bisa dibayangkan kalau sari udangnya sudah banyak yang ilang. Ngomong muter-muter kayak gini sebetulnya cuma mau ngasih tahu kalau cap jae ini masih cap jae kampung, wong walaupun pake udang, tapi kan udangnya cuma dikit tapi paling enggak masih berasa udang lamat-lamat walaupun cuma dikit karena sarinya banyak yang hilang.

Kalau sayurannya seperti biasa, aku sukanya warna-warni. Yang ada di kulkas, aku masukin yang penting kayak warna pelangi: wortel, kapri, kembang kol, kacang polong, tomat. Sampai-sampai paprika saja dimasukkan, wong namanya cap jae kampung Londo. Nggak punya kobis, jadi nggak pake kobis. Kebetulan Leo juga nggak suka kobis, jadi ya tidak masalah walaupun kadar kekampungannya menjadi turun walaupun sedikit. Karena nggak punya daun bawang, aku masukkan prei (kebetulan prei sedang murah di sini)

Di resep di tulisnya pake kaldu atau air. Berhuhung nggak punya kaldu ayam, aku cuma pake kaldu bubuk. Kebetulan punya brambang goreng dan seledri mentah. Jadi yo lumayan buat taburan di atasnya, biar kelihatan meriah dan cukup miroso.

Kalau ditanya apakah bergizi atau tidak, menurutku sih bergizi karena banyak sayurannya. Selain itu, tidak terlalu banyak kolesterol karena nggak pake daging, udangnya sak upit sporadis sekali (bahkan hampir nggak kelihatan kalau tidak dipetani satu-satu). Telur cuma satu (untuk bikin kekian) untuk makan berdua. Jadi yo kesimpulanku, cap jae kampung ini justru menu sehat. Terimkasih ya mbak Ine atas resepnya.

Ketika ditanya Leo, ini masakan apa, aku bilang cap jae kampung. Kata dia, not bad…..
Jadi…. cap jae kampung sudah masuk Londo! Opo ora hebat?

3 responses »

  1. ha baru bener nih….maaf ya….

    Reply
  2. Kenapa harus minta maaf? Aku yang minta maaf karena belum bener, sudah terlanjur dikirim. Aku ini sekarang sedang gagap teknologi, mau nempelin gambar saja kok susah banget sih. Sudah dicoba berkali-kali gagal melulu. Barangkali sudah terlalu lama nggak ngisi blog, jadi blognya ngambek. Sekarang saja masih belum tertempel gambarnya, sampai aku re-size segala.

    Reply
  3. hahahaha….karena cap caynya dah melanglang buana, jadi….predikat kampung dah boleh di copot ya Sri

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: