RSS Feed

Nggak jadi deh mencari sesuap berlian….

Posted on

Namanya belum rejeki ya nggak bisa dipaksain. Ceritanya nih ada seorang ibu-ibu orang Indonesia yang jualan di pasar kota. Blio jual dari Indomie sampai dengan kecap manis ABC (memang belum selengkap toko Asia sih, tapi kalau cuma butuh kecap masih bisalah beli di situ). Karena sesama orang Indonesia, kalau aku beli di situ kadang dapat korting (ternyata sistem koneksi nyampe juga di Belanda ya). hi…hi…hi…

Suatu kali aku tanya sama blio, boleh nggak kalau titip dagangan makanan di situ. Blio bilang boleh. Asyikkkkkk…maklum di sini kan kalau nggak punya permit (walaupun sektor informal di sini harus punya permit lho, harus jadi anggota KvK atau KADIN nya Belanda), nggak bisa seenaknya buka warung atau jualan di pasar. Begitu ada kesempatan ini, rasanya sudah sueneng duluan (walaupun belum bikin apa-apa. hi…hi..hi…).

Terus aku mikir-mikir bikin apa ya enaknya. Aku lihat dagangan blio sudah ada rempeyek yang juga titipan (kalau nggak salah sih yang nitip orang Suriname). Aku pengin titip makanan yang awet tapi gampang bikinnya. Puyeng juga ya kalau sudah mikir kayak gini. Soalnya di sini mau jualan kacang bawang juga kemungkinan nggak laku. Lha wong kacang goreng dan roasted peanut juga banyak kok di Belanda. Jadi mendingan yang agak aneh gitu.

Akhirnya pilihan jatuh pada kering kentang (maklum kan sudah nimba ilmu dari mbak Esther). Supaya alasannya lebih keren atau berkesan nasionalistis dan politis aku berujar, mendingan aku populerkan bahwa kering kentang adalah makanan Indonesia. Kalau nanti kering kentang ini populer di Belanda kan nggak bakalan dicolong sama Malaysia ya seperti kasus rendang yang dipatenin sama mereka.

Dengan naik sepeda, berbelanjalah aku ke pasar desa untuk beli kentang 5 kilo. Lumayan berat juga lho apalagi kan nggak hanya beli kentang doang. Pokoknya walaupun udara sudah mulai dingin menggigit (maklum kan menjelang winter yak), dan cukup windy dan cloudy apalagi kebetulan kok di tengah jalan hujan (masih untung bukan hujan es yang pletak-pletok), aku genjot juga tuh sepeda selamat sampai di rumah dengan gembolan 5 kilo kentang.

Dalam perjalan dari pasar ke rumah, dalam hati waktu itu aku bilang…ya namanya juga mencari sesuap berlian, jadi harus sabar mau berkorban dulu….. siapa tahu kalau nanti berhasil jadi kaya kan bisa mengunjungi MPers sedunia dari mulai utara (Canada) sampai dengan selatan (NZ). Kemudian dari Belanda terus ke timur menyusuri jazirah Arab sana (sekalian nengok Phitree di Kuwait) sampai dengan NYC (ketemu Elika) balik lagi ke Belanda. Jadi siap-siap saja ya Pepy, Nura dan tante Elly yang di Canada sampai dengan Eva di NZ serta mbak Theresa di Ostrali untuk menerima kunjunganku, seorang juragan kering kentang. ha..ha..ha…

Mulailah aku bikin kering kentang. Ternyata nggoreng kentang 5 kilo lama betul. Padahal aku sudah pake panci besar untuk menggoreng. Seharian waktu cuma habis untuk menggoreng doang. Untung ngirisnya pake food processor, jadi cepet. Terus hari lainnya untuk bikin bumbu dan lain-lain. Jadi total hari kerja yang digunakan untuk bikin kerang kentang ini (dicampur 1/2 kilo kacang goreng) adalah 2 hari kerja.

Dan ternyata o ternyata…lha wong 5 kilo kentang setelah jadi kering kentang kok cuma 1,8 kilo (padahal ini sudah disumpelin 1/2 kilo kacang lho). Waktu itu aku masukkan kering kentang tersebut dalam plastik (tiap plastik isi 200 gram), lha kok cuma jadi 9 plastik. L
ha kok mengkeretnya buanyak banget yak. Lha puyeng juga aku menentukan harga jual. Biaya bahan dan (perkiraan energi) total 15 Euro. Itu nggak termasuk biaya transport karena beli kentangnya kan nggenjot sepeda (yang nggenjot cuma cukup diisi nasi pecel, nggak perlu bensin he…he…he…). Transport untuk menyerahkan dagangan ke pasar kota dibayarin Leo (karena kami memang tiap seminggu atau 2 minggu sekali ke pasar kota). Sampai-sampai Leo bilang gini:

“Kamu ini curang, wong kamu yang bisnis, tapi aku yang bayar untuk beli bahan dan sebagainya. Giliran terima uang, kamu yang terima uang…..”

Lha kalau nggak gitu, terus gimana ya? Bukankah itu aturan umum yang sudah disepakati dunia? Suami ngeluarin duit, istri yang terima? Ya to? ha…ha….ha….

Biaya 15 Euro kan tidak termasuk biaya tenaga kerja yang kalau dihitung pake sistem di Belanda bisa bangkrut (kalau nggak salah sih biaya tenaga kerja di sini 7-8 Euro per jam masih potong pajak). Padahal waktu yang aku gunakan untuk bikin 2 hari full time jé.

Let’s say, aku nggak ngitung tenaga kerja (wong namanya pengusaha kan nggak digaji, tapi dapat profit to?), biaya per plastik (isi 200 gram) sudah 1,7 Euro. Terus aku harus jual berapa coba? Puyeng aku. Sebagai gambaran, harga chips di supermarket sekitar 3 – 5 Euro per kilo. Kalau aku jual misalnya 3 Euro per plastik (itu kalau laku) kan cuma untung 1,3 Euro per plastik x 9 plastik atau sama dengan 11,3 Euro dengan kerja setengah mati selama 2 hari.

Nah ternyata nggak sampai segitu aja kesulitanku ini dalam mencari sesuap berlian. Kemarin waktu ke pasar, aku nggak nemu ibu tersebut. Sampai-sampai seluruh pasar sudah kami ubek. Bahkan Leo dan aku berpisah untuk mencari ibu tersebut. Memang sih nggak janjian, jadi aku nggak tahu apakah ibu tersebut jualan atau enggak hari ini. Sudah gitu aku lupa lagi nggak nanya nomor HP blio, main sok yakin saja bawa dagangan ke sana.

Kebetulan blio memang belum punya tempat tetap. Kata Leo yang pengin jualan di pasar buanyak banget, jadi kalau belum memperoleh tempat permanen, pihak panitia pasar akan mengundi, siapa saja yang bisa jualan di sana hari itu. Karena pake sistem lotre, maka bagi pedagang yang masih belum permanen tempatnya, akan berpindah-pindah tempat jualannya, tergantung lotre yang keluar. Mungkin saja hari ini ibu tersebut nggak dapat lotre, jadi ya blio harus pulang. Dan itu artinya aku harus pulang juga bawa kering kentangku yang 9 plastik. Ya sudah…nasib…mau diapain lagi wong namanya belum rejeki. Mau nangis juga percuma kan?

Yang jelas sih kami kemarin di pasar kami sudah beli buanyak sekali buah dan sayur segar serta makan Pizza Turki sebelum pulang.

Sekarang mau tanya nih, dengan kasusku seperti itu, ada usul nggak untuk memperbaiki nasibku di kemudian hari dalam mencari sesuap berlian. Maksudnya gini:

1. Sebaiknya jualan apa ya yang awet atau tahan lama serta kalau bisa sih gampang bikinnya? Ada alternatif lain selain kering kentang?

2. Gimana sih ngitung harga jual? Ada yang tahu nggak harga kering kentang di toko Asia? terutama yang tinggal di Belanda nih….(aku sendiri belum cek di toko Asia).

Ngomong-ngomong harga kering kentang di Indonesia berapa sih? Jangan-jangan yang aku jual lebih murah….kalau bener lebih murah, mendingan aku eksport aja ya kering kentang made in Londo ini ke Indonesia. ha…ha…ha…

Terimakasih ya teman-teman sebelumnya…..

Catatan: Gambar yang aku pasang ini adalah coklat yang dicetak atau dibungkus menyerupai bentuk uang Euro. Lha siapa tahu to, kalau aku nanti kaya dengan titip dagangan di pasar, dompetku penuh dengan Euro (terutama yang warna ungu tuh….yang 500 Euro….ha…ha…ha….).

84 responses »

  1. foodngarden said: mbak, mau kering kentangnya hihihi

    Boleh….boleh….he…he…he…soalnya aku juga memutuskan kering kentang yang aku bikin untuk sampel icip-icip. Pengin tahu, lidah Londo cocok apa enggak dengan kering kentang bikinanku.

    Reply
  2. azizasf said: mbak..kering kentang lumayan awet…emang betul…kentang 2 kilo susutnya banyak kalau udah digoreng kering….tetap semangat mbak…

    Bener ya awet? Aku juga pengin tahu nih awetnya sampai kapan. Aku nggak ngira lho kalau susutnya bisa begitu banyak…..aku kira masih bisa dapat setengahnya, ternyata 40 persennya saja enggak. Padahal nggoreng kentang kan nggak mudah ya (untukku lho), belum lagi harus pake food processor supaya cepet (kalau pake manual kali 3 hari baru selesai ngrajang ya…he…he…he…).Thanks berat atas semangatnya….

    Reply
  3. azizasf said: mbak..kering kentang lumayan awet…emang betul…kentang 2 kilo susutnya banyak kalau udah digoreng kering….tetap semangat mbak…

    Mbak … kenapa gag bikin chesse-stick ato kaasstengels goreng ? … walo di Londo banyak, tapi kan beda tho sama yang pernah mbak Sri bikin lebaran kemaren … dah gitu, mas Leo kan doyan … so paling enggak, tu makanan lumayan cocok di lidah Londo … he he he …

    Reply
  4. azizasf said: mbak..kering kentang lumayan awet…emang betul…kentang 2 kilo susutnya banyak kalau udah digoreng kering….tetap semangat mbak…

    Jeng Sri….wahhh pengalamannya kocak juga walaupun masih apes…hehehe. Klo jualan di pasar gitu sih jangan ngarep bakal cepet ngetop jeng…pasti bakal nunggu lamaa sampe jualan kita di kenal betul dan klo cocok akan dicari. Aku juga punya pikiran yang sama loh, pengen cari kesempatan usaha juga, tapine emang gak gampang tuh. Klo aku sih jadinya sekarang cuma melayani temen2 yang mau dimasakin aja, kebanyakan yang ulang tahun entah itu anaknya ato ibunya, tapi emang tidak berjiwa bisnis, ngasih harganya selalu aja harga ama temen…hehehe, ah yang penting kita seneng dan nggak rugi, iya toch? yo malah untung koq, udah nggak usah mikir masak apa di hari2 melayani pesanan mereka itu. Eh malah ada yang udah minta diadain demo masak indo loh…tapi akunya blum PD, jadi masih tak tunda, mikir dulu dan ngumpulin keberanian dulu.Jeng, soal kacang bawang, la orang2 londo itu pada suka banget lo, mereka tak suguhin waktu lebaran kemarin..ehh ada yang ketagihan dan minta dibikinin lagi, tapi ya tak suruh mbayar to wong lebaran dah lewat….hihihi, katanya enak banget, bawang putihnya banyak dan kerasa banget..githuuu jeng, makanya kacang bawang kita kan beda sama kc goreng mereka, coba aja itu juga dititipin, bikin contoh dulu jangan banyak2. Sukses deh dengan rencana dagangnya, semoga ada jalan dan ada rejeki………ojo lali traktir aku yoo…..apalagi klo mau keliling ngunjungi temen2 Mp’s….aku yo dijak pisan…..hahaha..tak doáin deh.

    Reply
  5. azizasf said: mbak..kering kentang lumayan awet…emang betul…kentang 2 kilo susutnya banyak kalau udah digoreng kering….tetap semangat mbak…

    semoga sukses ya mbak

    Reply
  6. phitree said: Mbak … kenapa gag bikin chesse-stick ato kaasstengels goreng ? … walo di Londo banyak, tapi kan beda tho sama yang pernah mbak Sri bikin lebaran kemaren … dah gitu, mas Leo kan doyan … so paling enggak, tu makanan lumayan cocok di lidah Londo … he he he …

    Aku juga mikir ke situ, tapi mesin pastaku rusak. he…he…he…Jadi harus beli mesin pasta dulu yang lumayan bagus. Pasti deh orang Belanda suka karena memang beda kok kaasstengels kita sama kasstengelsnya Londo. Thanks ya say for giving me advice…..(sambil mikir….gimana ya caranya nodong Leo buat dibeliin mesin pasta yang bagus. hi…hi…hi… maklum yang bagus sampai 350 Euro-an jé….).

    Reply
  7. adindasaras said: Jeng Sri….wahhh pengalamannya kocak juga walaupun masih apes…hehehe. Klo jualan di pasar gitu sih jangan ngarep bakal cepet ngetop jeng…pasti bakal nunggu lamaa sampe jualan kita di kenal betul dan klo cocok akan dicari. Aku juga punya pikiran yang sama loh, pengen cari kesempatan usaha juga, tapine emang gak gampang tuh. Klo aku sih jadinya sekarang cuma melayani temen2 yang mau dimasakin aja, kebanyakan yang ulang tahun entah itu anaknya ato ibunya, tapi emang tidak berjiwa bisnis, ngasih harganya selalu aja harga ama temen…hehehe, ah yang penting kita seneng dan nggak rugi, iya toch? yo malah untung koq, udah nggak usah mikir masak apa di hari2 melayani pesanan mereka itu. Eh malah ada yang udah minta diadain demo masak indo loh…tapi akunya blum PD, jadi masih tak tunda, mikir dulu dan ngumpulin keberanian dulu.Jeng, soal kacang bawang, la orang2 londo itu pada suka banget lo, mereka tak suguhin waktu lebaran kemarin..ehh ada yang ketagihan dan minta dibikinin lagi, tapi ya tak suruh mbayar to wong lebaran dah lewat….hihihi, katanya enak banget, bawang putihnya banyak dan kerasa banget..githuuu jeng, makanya kacang bawang kita kan beda sama kc goreng mereka, coba aja itu juga dititipin, bikin contoh dulu jangan banyak2. Sukses deh dengan rencana dagangnya, semoga ada jalan dan ada rejeki………ojo lali traktir aku yoo…..apalagi klo mau keliling ngunjungi temen2 Mp’s….aku yo dijak pisan…..hahaha..tak doáin deh.

    Terimakasih mbakyu atas dukungan dan doanya…..semoga berhasil betulan nih bisnis berlianku…..Amin….Memang betul, sulit mencari peluang usaha di sini. Aku ya merasakan juga. Lha piye, kalau harus pake sistem resmi pake ijin segala malah belum-belum sudah bangkrut yo. hi…hi…hi…Lha mbak Mutty sudah bagus gitu lho memulainya. Jangan segan-segan deh meneruskan lagi. Ayo…semangat menemani aku. Yang penting gimana caranya modal balik dulu kali ya….Waktu lebaran aku yo bikin kacang bawang. Rasane sih menurutku enak, tapi isih rodo kemlothak. ha…ha…ha….masih harus belajar kalau yang ini…..

    Reply
  8. taishaluv said: semoga sukses ya mbak

    Terimakasih sekali atas dukungannya ya…..seneng rasanya banyak yang mendukung….

    Reply
  9. cutyfruty said: Thanks berat atas dukungannya. Memang betul, sedang sibuk mengerjakan mega proyek berlian….hua…ha…ha….Lha ya siapa tahu ya kalau betulan kan kami bisa berkunjung ke St. Louis. Lha mosok ngelihat St. Louis cuma di tipi doang. he…he…he…mbok ya sekali-sekali ngelihat aslinya. Waktu itu ada siaran tentang St. Louis di tivi. Leo sampai teriak-teriak manggil: “Itu St. Louis…..temanmu kan tinggal di sana…..” Mataku sampai aku belalakin nyari-nyari….mana nih kok nggak ada Fitri dan Nisa…….apa mereka nggak kesorot kamera kali ya….

    hahahahaha… mbaaaaaaaaaaaaaa… itu loh komen nya lucu.. rasa2 nya mba sri ini selalu gembira yaa..pasti orang2 yang ada di sebelah mba sri..selalu kebagian bahagia juga deh.. kan menular gitu loh mbaa.. eem..pernah sedih juga ga ?? **wesss..nanya nya ngeyel.. :)))

    Reply
  10. cutyfruty said: Thanks berat atas dukungannya. Memang betul, sedang sibuk mengerjakan mega proyek berlian….hua…ha…ha….Lha ya siapa tahu ya kalau betulan kan kami bisa berkunjung ke St. Louis. Lha mosok ngelihat St. Louis cuma di tipi doang. he…he…he…mbok ya sekali-sekali ngelihat aslinya. Waktu itu ada siaran tentang St. Louis di tivi. Leo sampai teriak-teriak manggil: “Itu St. Louis…..temanmu kan tinggal di sana…..” Mataku sampai aku belalakin nyari-nyari….mana nih kok nggak ada Fitri dan Nisa…….apa mereka nggak kesorot kamera kali ya….

    Good idea, Sri saya mendukung gagasan anda. Semoga berhasil idea anda mengenai sesuap berlian. Jangan lupa mampir Canada. Betul menurut anda, tenaga di LN kalau menurut minimum wages jauh lebih mahal dibandingkan DN Indonesia. Saya mencoba produksi bakcang, hasil achirnya saya jumlahkan dan dibagi, untuk harga jual perbiji tidak bisa nutup apabila biaya tenaga ikut diperhitungkan kalau didasarkan minimum wages per jamnya. Kami harus memikirkan competeter yang tidak begitu menghiraukan minimum wages. MBah bilang terpaksa jangan dihitung dasarkan minimum wages tenaga perjam disini untuk produksi makanan dibuat secara manual, sebab semua home made cakes dan cookies dibuat dengan manual 100%.Bolehkah saya sarankan kalau bisa membuat cheese stick yang digoreng, lebih simple dan tidak susut banyak, dengan catatan diteliti visual study dulu.

    Reply
  11. fitrids said: hahahahaha… mbaaaaaaaaaaaaaa… itu loh komen nya lucu.. rasa2 nya mba sri ini selalu gembira yaa..pasti orang2 yang ada di sebelah mba sri..selalu kebagian bahagia juga deh.. kan menular gitu loh mbaa.. eem..pernah sedih juga ga ?? **wesss..nanya nya ngeyel.. :)))

    Bener lho waktu itu, yang aku cari dikau tersayang sama Nisa….sampai-sampai aku ngomel…gimana sih kameramennya kok nggak profesional gitu….masak iya aku nggak bisa ngelihat Fitri en Nisa….he…he…he….terus terang aku malah nggak perhatiin beritanya sendiri karena sibuk mencari Fitri dan Nisa. Kalau nggak salah sih beritanya tentang bangunan melengkung atau apa gitu di St. Louis (jembatan atau apa yo, aku lupa jé)….Lha kalau sedih sih kadang juga sedih. Tapi kalau sedih thok tanpa ada perbaikan nasib yo percuma to? hi…hi…hi…Ok have a nice day….

    Reply
  12. ellytjan said: Good idea, Sri saya mendukung gagasan anda. Semoga berhasil idea anda mengenai sesuap berlian. Jangan lupa mampir Canada. Betul menurut anda, tenaga di LN kalau menurut minimum wages jauh lebih mahal dibandingkan DN Indonesia. Saya mencoba produksi bakcang, hasil achirnya saya jumlahkan dan dibagi, untuk harga jual perbiji tidak bisa nutup apabila biaya tenaga ikut diperhitungkan kalau didasarkan minimum wages per jamnya. Kami harus memikirkan competeter yang tidak begitu menghiraukan minimum wages. MBah bilang terpaksa jangan dihitung dasarkan minimum wages tenaga perjam disini untuk produksi makanan dibuat secara manual, sebab semua home made cakes dan cookies dibuat dengan manual 100%.Bolehkah saya sarankan kalau bisa membuat cheese stick yang digoreng, lebih simple dan tidak susut banyak, dengan catatan diteliti visual study dulu.

    Terimakasih sekali tante atas dukungannya….Tambah semangat lagi nih…..siapa tahu nanti kalau proyek mega berlian ini berhasil, kami bisa keliling dunia, mengunjungi MPers. ha…ha…ha….(namanya bermimpi kan boleh ya tante…..).Memang tante, kalau diitung minimum wages, kita akan susah cari pembeli. Padahal kan kerja sudah setengah mati ya tante…..Belum lagi kalau diitung transportasi untuk beli bahan muahalnya luar biasa. Yang jelas home made products memang harus unik ya tante. Soalnya di sini kalau bikin kue kering, akan bersaing keras dengan industri besar. Mereka bisa memproduksi misalnya jan hagel, speculaas dengan harga yang jauh lebih murah daripada kalau kita produk sendiri. Mereka kan berproduksi dengan skala yang luar biasa gedenya, dan semuanya dilakukan dengan mesin. Sedangkan kita kan produksi secara manual. OK, rasa memang lain tante, tapi orang kan kadang nggak peduli, yang penting murah. Apalagi dengan kenaikan biaya hidup yang luar biasa setelah guilders berubah jadi euro, orang berusaha mencari produk semurah mungkin. Saya juga kepikiran bikin cheese stick tante, tapi nggak punya mesin pasta. Mesin pasta saya rusak baru dipake sekali. Maklum mesin harga murah. hi…hi…hi…. Saya sudah coba pake manual, tapi hasil cheese stick nya kurang bagus walaupun rasa sih enak. Sedangkan dagang kan butuh penampilan juga kan tante, nggak cuma rasa. Mesin pasta yang bagus sekitar 350 sampai dengan 400 Euro. Mau beli yang bagus kayak gini, iya kalau cheese stick saya laku, kalau enggak kan sayang juga karena kami jarang makan pasta atau kalaupun beli pasta buatan pabrik di sini cukup murah (misalnya macaroni cuma 19 cents per kilo. Memang sih rasanya ya gitu aja, tapi yang penting kan gimana kita bikin saus nya)Kadang memang ada aanbieding (special offer) mesin pasta yang harga 50 Euro-an. Sedang mikir nih tante, apakah perlu saya beli mesin ini kalau ada aanbieding.Sekali lagi, terimakasih ya tante atas dukungannya…..See you in Canada (hi…hi…hi…mengkhayalnya kebablasan…..).

    Reply
  13. ellytjan said: Good idea, Sri saya mendukung gagasan anda. Semoga berhasil idea anda mengenai sesuap berlian. Jangan lupa mampir Canada. Betul menurut anda, tenaga di LN kalau menurut minimum wages jauh lebih mahal dibandingkan DN Indonesia. Saya mencoba produksi bakcang, hasil achirnya saya jumlahkan dan dibagi, untuk harga jual perbiji tidak bisa nutup apabila biaya tenaga ikut diperhitungkan kalau didasarkan minimum wages per jamnya. Kami harus memikirkan competeter yang tidak begitu menghiraukan minimum wages. MBah bilang terpaksa jangan dihitung dasarkan minimum wages tenaga perjam disini untuk produksi makanan dibuat secara manual, sebab semua home made cakes dan cookies dibuat dengan manual 100%.Bolehkah saya sarankan kalau bisa membuat cheese stick yang digoreng, lebih simple dan tidak susut banyak, dengan catatan diteliti visual study dulu.

    mbak, emang benar saran2 diatas… kalo kita bikin makanan yg menguras tenaga & waktu tapi untungnya gak seberapa kok ora cucuk ya karo kesele? makanya saya juga males kalo dipesenin resoles, lha gawe kulit, motong2 wortel, ayam dll, trus ijik bungkus, nyelup ke putih telur kmd panir baru digoreng… walah! tapi kok ya ada lho di NY yg jual 1 resoles ukuran gede $1.25… nek aku yo wis nyerah dgn rego semono :(Lha nek jual lumpia oven piye? kan gak seribet resoles/kering kentang… juga cheesestick yg bikin Leo ngemel… pasti dibantu promosi sama Leo :))

    Reply
  14. erm718 said: mbak, emang benar saran2 diatas… kalo kita bikin makanan yg menguras tenaga & waktu tapi untungnya gak seberapa kok ora cucuk ya karo kesele? makanya saya juga males kalo dipesenin resoles, lha gawe kulit, motong2 wortel, ayam dll, trus ijik bungkus, nyelup ke putih telur kmd panir baru digoreng… walah! tapi kok ya ada lho di NY yg jual 1 resoles ukuran gede $1.25… nek aku yo wis nyerah dgn rego semono :(Lha nek jual lumpia oven piye? kan gak seribet resoles/kering kentang… juga cheesestick yg bikin Leo ngemel… pasti dibantu promosi sama Leo :))

    Lha pancen kalau kita ngitung tenaga pancen jan ora cucuk tenan. Kuesel tenan kadang ora cucuk karo penghasilané. Nek dudu hobby, jangan deh dilakukan daripada cuma sebel thok. Sudah gitu, bisa saja lho keluarga terlantar. Misalé waé pas aku nggawe kering kentang sing arep tak dol, aku butuh waktu cukup banyak untuk bikin. Akibatnya Leo kurang terurus makannya. Masak sak kenané waé. Untung nduwé bojo apik, nek ora wis padu tenan. he…he…he…Aku terus terang juga terima pesanan risoles kok (eh sorry baru 2 kali ding. hi…hi…hi..). Siji regané 1 euro (sing rodo cilik), nek sing gede 1,5 Euro. Yang pesen orang Indonesia. Dia sekali pesen 10 biji. Yo wis lah idep-idep timbang nganggur. Lha piye, bingung arep dodol opo nang kéné. Golek gawean angel sedangkan biaya hidup melambung tinggi sejak guilders berubah jadi euro, padahal gaji dikonversinya tetap. Wong sak Eropa podho sutris dengan perubahan mata uang ini.Kalau lumpia oven itu, kalau dingin nggak renyah, jadi harus di-oven lagi supaya renyah. Wong Londo kuwi rodo aneh, apapun harus dimakan hangat. Lha wong gado-gado waé karepé yo kudu anget kok. Aku sampe bingung kok. Bingung maneh melihat mereka makan patat (french fries), nasi goreng, dan bami goreng. Lha wong panganan koyo ngono nek Londo yo digrujug nganggo bumbu kacang kok. hi…hi…hi…Thanks ya Elika atas dukungannya. Aku tetap semangat, supaya nggak sutris, aku anggep ini sebagai hobby. Siapa tahu berhasil dadi milioner. hua…ha…ha…terus aku iso nang NYC yo, tak tilik mengko….he…he…he…see you in NYC (ngayal lagi….).

    Reply
  15. cutyfruty said: Saya juga kepikiran bikin cheese stick tante, tapi nggak punya mesin pasta. Mesin pasta saya rusak baru dipake sekali. Maklum mesin harga murah. hi…hi…hi…. Saya sudah coba pake manual, tapi hasil cheese stick nya kurang bagus walaupun rasa sih enak. Sedangkan dagang kan butuh penampilan juga kan tante, nggak cuma rasa. Mesin pasta yang bagus sekitar 350 sampai dengan 400 Euro. Mau beli yang bagus kayak gini, iya kalau cheese stick saya laku, kalau enggak kan sayang juga karena kami jarang makan pasta atau kalaupun beli pasta buatan pabrik di sini cukup murah (misalnya macaroni cuma 19 cents per kilo. Memang sih rasanya ya gitu aja, tapi yang penting kan gimana kita bikin saus nya)Kadang memang ada aanbieding (special offer) mesin pasta yang harga 50 Euro-an. Sedang mikir nih tante, apakah perlu saya beli mesin ini kalau ada aanbieding.

    Mahal ya mesin pasta sampai harganya 350 Uero. Pernah saya menanyakan disini tetapi harus mesan dulu, hanya $55, tetapi tergantung buatanya. Yang merk bagus tentunya mahal. Saya pernah baca di blocknya Estherlita, memesan pasta maker dari Italy, kalau tidak salah sekitar $60. Kalau bisa jangan hanya untuk membuat cheese stick saja diprakariakan untuk membuat kulit pastel, dll. Saya disini memakai yang manual, harganya $20 second hand, tetapi masih bagus. Kebetulan ada yang jual. Ini semua tergantung keadaan di Holland dan kesukaan orang Belanda. Ini hanya sekedar memberi idea, tergantung pada anda, keputusan ada pada anda, jangan sampai Leo kapiran, dan tidak sampai dapat perhatian, sebab anda yang mengerjakan sendiri.

    Reply
  16. cutyfruty said: Saya juga kepikiran bikin cheese stick tante, tapi nggak punya mesin pasta. Mesin pasta saya rusak baru dipake sekali. Maklum mesin harga murah. hi…hi…hi…. Saya sudah coba pake manual, tapi hasil cheese stick nya kurang bagus walaupun rasa sih enak. Sedangkan dagang kan butuh penampilan juga kan tante, nggak cuma rasa. Mesin pasta yang bagus sekitar 350 sampai dengan 400 Euro. Mau beli yang bagus kayak gini, iya kalau cheese stick saya laku, kalau enggak kan sayang juga karena kami jarang makan pasta atau kalaupun beli pasta buatan pabrik di sini cukup murah (misalnya macaroni cuma 19 cents per kilo. Memang sih rasanya ya gitu aja, tapi yang penting kan gimana kita bikin saus nya)Kadang memang ada aanbieding (special offer) mesin pasta yang harga 50 Euro-an. Sedang mikir nih tante, apakah perlu saya beli mesin ini kalau ada aanbieding.

    mbak, aku ra masuk daftar kunjunganmu? Hiks… :((

    Reply
  17. cutyfruty said: Saya juga kepikiran bikin cheese stick tante, tapi nggak punya mesin pasta. Mesin pasta saya rusak baru dipake sekali. Maklum mesin harga murah. hi…hi…hi…. Saya sudah coba pake manual, tapi hasil cheese stick nya kurang bagus walaupun rasa sih enak. Sedangkan dagang kan butuh penampilan juga kan tante, nggak cuma rasa. Mesin pasta yang bagus sekitar 350 sampai dengan 400 Euro. Mau beli yang bagus kayak gini, iya kalau cheese stick saya laku, kalau enggak kan sayang juga karena kami jarang makan pasta atau kalaupun beli pasta buatan pabrik di sini cukup murah (misalnya macaroni cuma 19 cents per kilo. Memang sih rasanya ya gitu aja, tapi yang penting kan gimana kita bikin saus nya)Kadang memang ada aanbieding (special offer) mesin pasta yang harga 50 Euro-an. Sedang mikir nih tante, apakah perlu saya beli mesin ini kalau ada aanbieding.

    Mbak ayo tetep semangat!!! Pengalaman pertama kurang berhasil rpp! Coba gawe sambel pecel mbak! Lebih gampang keknya…

    Reply
  18. ellytjan said: Kalau bisa jangan hanya untuk membuat cheese stick saja diprakariakan untuk membuat kulit pastel, dll. Saya disini memakai yang manual, harganya $20 second hand, tetapi masih bagus. Kebetulan ada yang jual. Ini semua tergantung keadaan di Holland dan kesukaan orang Belanda. Ini hanya sekedar memberi idea, tergantung pada anda, keputusan ada pada anda, jangan sampai Leo kapiran, dan tidak sampai dapat perhatian, sebab anda yang mengerjakan sendiri.

    Memang betul tante, nanti kalau saya punya mesin pasta, bisa untuk membuat makanan lain selain pasta dan cheese stick. Wish me luck ya, tante….semoga saya bisa membeli mesin idaman saya. Dan saya akan juga berusaha supaya Leo nggak kapiran. he…he…he…Terimakasih tante atas dukungan dan nasihatnya….

    Reply
  19. haleygiri said: mbak, aku ra masuk daftar kunjunganmu? Hiks… :((

    Kalau ke Solo kan lebih gampang to? Insya Allah aku mudik tahun depan atau malah tahun depannya lagi bisa jalan-jalan lagi ke Jawa Tengah supaya kita bisa kopdaran ya….Menurutku Solo lebih unik daripada Jakarta. Lebih gimana gitu suasananya daripada Jakarta yang sumpek…..

    Reply
  20. haleygiri said: Mbak ayo tetep semangat!!! Pengalaman pertama kurang berhasil rpp! Coba gawe sambel pecel mbak! Lebih gampang keknya…

    Iya betul, harus semangat ya. Thanks berat atas dukungannya. Aku sudah pernah nyoba bikin sambel pecel yang kering. Tapi ternyata untuk menghaluskannya cukup susah, harus pake food processor (wong ora nduwe deplokan). Makin lama makin berat karena lengket (mungkin faktor gula Jawa dan lain-lain itu kali ya?). Aku jadi kasihan sama food processornya. Setelah jadi, Leo bilang kalau bumbu pecel kayak gitu, harus dibungkus dengan plastik vacuum. Dia nggak setuju kalau cuma dibungkus plastik biasa karena prinsip dia adalah kalau mau disimpan lama harus higienis. Dan ini harus di-vacum (sebenarnya dia juga penginnya kalau aku jualan kering kentangpun harus di-vacum, nggak sekedar diwadahi plastik thok). Kami mencari mesin kayak gitu, dan ternyata o ternyata….regane larang. Sing murah (nggak bagus kualitasnya) sekitar 100 Euro-an. Plastik untuk memvakum ternyata yo larang….hiks…hiks…hiks….

    Reply
  21. cutyfruty said: bisa mengunjungi MPers sedunia dari mulai utara (Canada) sampai dengan selatan (NZ). Kemudian dari Belanda terus ke timur menyusuri jazirah Arab sana (sekalian nengok Phitree di Kuwait) sampai dengan NYC (ketemu Elika) balik lagi ke Belanda. Jadi siap-siap saja ya Pepy, Nura dan tante Elly yang di Canada sampai dengan Eva di NZ serta mbak Theresa di Ostrali

    Mbak.. tetep inget mudik ke Indo kan yah.. aku jangan dilupain loh.. hehehebtw, emang gampang2 susah niat mau jualan pertama kali itu.. terutama nentuin harga jual.. padahal kalo bikin itu aku selalu berusaha pake yang kualitas terbaik..cuma tetep gak bisa kasih harga terlalu tinggi karena takut memberatkan apalagi kebanyakan yang order termasuk temen2.. makanya suka agak serba salah juga.. untuk idenya nanti aku bantuin pikirin yah mbak Sri.. sementara itu, tetap semangat je.. semoga mendulang berlian bukanlah lagi mimpi di siang bolong.. kan aku juga pengen kecipratan rejekinya mbak.. hihihihi

    Reply
  22. debluelover said: Mbak.. tetep inget mudik ke Indo kan yah.. aku jangan dilupain loh.. hehehebtw, emang gampang2 susah niat mau jualan pertama kali itu.. terutama nentuin harga jual.. padahal kalo bikin itu aku selalu berusaha pake yang kualitas terbaik..cuma tetep gak bisa kasih harga terlalu tinggi karena takut memberatkan apalagi kebanyakan yang order termasuk temen2.. makanya suka agak serba salah juga.. untuk idenya nanti aku bantuin pikirin yah mbak Sri.. sementara itu, tetap semangat je.. semoga mendulang berlian bukanlah lagi mimpi di siang bolong.. kan aku juga pengen kecipratan rejekinya mbak.. hihihihi

    Tenang Lis….kalau di Jakarta saja bisa kan kita ketemu…kopdaran. Kan kita sudah janjian nanti mau nyatroni restaurant. Lha nggak tahu nanti mau nyatroni restaurant mana, yang penting kita bisa kopdaran di Jakarta ya…..Bener Lis, susah banget menentukan harga jual. Kalau terlalu mahal, nanti nggak laku. Kalau terlalu murah, kita yang setengah mati tenaganya. Bisnis kayak gini harus didasari pada hobby dulu kayaknya ya. Kalau nggak hobby, sebaiknya jangan dilakukan daripada ngomel mulu. hi…hi..hi… Thanks ya Lis atas dukungannya. Thanks juga sudah mau mikirin produk mega proyek berlianku ini……

    Reply
  23. debluelover said: Mbak.. tetep inget mudik ke Indo kan yah.. aku jangan dilupain loh.. hehehebtw, emang gampang2 susah niat mau jualan pertama kali itu.. terutama nentuin harga jual.. padahal kalo bikin itu aku selalu berusaha pake yang kualitas terbaik..cuma tetep gak bisa kasih harga terlalu tinggi karena takut memberatkan apalagi kebanyakan yang order termasuk temen2.. makanya suka agak serba salah juga.. untuk idenya nanti aku bantuin pikirin yah mbak Sri.. sementara itu, tetap semangat je.. semoga mendulang berlian bukanlah lagi mimpi di siang bolong.. kan aku juga pengen kecipratan rejekinya mbak.. hihihihi

    duhhhh …. susah juga ya. Tapi tetep semangat deh, siapa tahu ada hasil nanti, entah jualan apa.Cuma kalau memang hanya 9 kantong, ya susah juga ya.

    Reply
  24. agneswollny said: duhhhh …. susah juga ya. Tapi tetep semangat deh, siapa tahu ada hasil nanti, entah jualan apa.Cuma kalau memang hanya 9 kantong, ya susah juga ya.

    Lha ya itu mbak Agnes…susahnya ceker-ceker mencari sesuap berlian di sini. he…he…he…Aku sedang cari info juga nih berapa harga kering kentang kalau di toko Asia. Temanku malah sedang carikan info untuk harga kering kentang di tempat lain. Jadi kan nanti ada perbandingan. Siapa tahu memang harganya mahal, jadi rada cucuk gitu. Selain itu sedang mikir juga mbak, sebaiknya jualan apa yang laku di sini. Masalahnya aku kan jiwa kuli bukan pengusaha, jadi memang yo harus belajar lebih banyak lagi.Thank you very much for your support. It means a lot to me….

    Reply
  25. agneswollny said: duhhhh …. susah juga ya. Tapi tetep semangat deh, siapa tahu ada hasil nanti, entah jualan apa.Cuma kalau memang hanya 9 kantong, ya susah juga ya.

    Hello mb Sri , Salam kenal, saya Isna, istrinya mas Chris di California. Jadi, salut dg usahanya mb Sri utk bisnis. Kalau di US, potato chip itu dijual dlm plastik2 besar buat snack. Jd, kalau mau bikin kering kentang, ya.. pakai kentang itu aja. Enggak usah ngegoreng dr mentahnya, cuapek.Saya sih enggak pintar blas soal masakan, tapi apa enggak lebih mudah bikin nastar, kastengel, teri-kacang balado? Kalau bisa yg bakar2an di oven lebih cepat masaknya dan enggak pegal berdiri. Itu menurut saya mb Sri… Selamat berbisnis ya..wassalam,Isna

    Reply
  26. isnachristiadi said: Hello mb Sri , Salam kenal, saya Isna, istrinya mas Chris di California. Jadi, salut dg usahanya mb Sri utk bisnis. Kalau di US, potato chip itu dijual dlm plastik2 besar buat snack. Jd, kalau mau bikin kering kentang, ya.. pakai kentang itu aja. Enggak usah ngegoreng dr mentahnya, cuapek.Saya sih enggak pintar blas soal masakan, tapi apa enggak lebih mudah bikin nastar, kastengel, teri-kacang balado? Kalau bisa yg bakar2an di oven lebih cepat masaknya dan enggak pegal berdiri. Itu menurut saya mb Sri… Selamat berbisnis ya..wassalam,Isna

    Terimakasih Isna atas dukungannya. Aku sendiri pengin nyoba juga pake chips, tapi belum sempat eksperimen. Siapa tahu bisa renyah juga ya setelah dikasih bumbu. Atau setelah itu harus di-oven kali ya supaya renyah lagi…. Aku nggak pinter bikin kue kering ataupun cake. Selain itu kue kering di sini relatif murah, jadi kemungkinan nggak laku juga ada. Bayangkan saja kue kering kayak speculaas cuma sekitar 3 Euro per pak dan lumayan gede kok paknya. Kalau bikin nastar, harus bikin nanasnya segala ya (nah ini nih yang aku kurang sabar). Kalau cake memang aku nggak pinter blas, sering amblegnya daripada bagusnya. he…he…he…Aku juga rencana bikin teri kacang balado, tapi kebetulan kalau ke toko Asia nggak pernah nemu teri Medan, yang ada teri yang gede. Aku pernah bikin pake teri gede, tapi hasilnya kok keras dan kurang enak rasanya (mungkin aku nya aja yang bego ya…hi…hi…hi…). Kata teman teri Medan memang kadang ada di toko Asia, tapi sering abisnya. Thank you very much for your support….

    Reply
  27. isnachristiadi said: Hello mb Sri , Salam kenal, saya Isna, istrinya mas Chris di California. Jadi, salut dg usahanya mb Sri utk bisnis. Kalau di US, potato chip itu dijual dlm plastik2 besar buat snack. Jd, kalau mau bikin kering kentang, ya.. pakai kentang itu aja. Enggak usah ngegoreng dr mentahnya, cuapek.Saya sih enggak pintar blas soal masakan, tapi apa enggak lebih mudah bikin nastar, kastengel, teri-kacang balado? Kalau bisa yg bakar2an di oven lebih cepat masaknya dan enggak pegal berdiri. Itu menurut saya mb Sri… Selamat berbisnis ya..wassalam,Isna

    Mbakyu, tetep semangat nggih. Ojo putus asa. Njajal bikin kripik singkong pedes. Kalau di Sumbar namanya kripik sanjai. Kripik singkongnya beli aja yang udah jadi. Terus dibumbuin. Kalau mau lebih ngirit, ngiris sendiri ya boleh.

    Reply
  28. enkoos said: Mbakyu, tetep semangat nggih. Ojo putus asa. Njajal bikin kripik singkong pedes. Kalau di Sumbar namanya kripik sanjai. Kripik singkongnya beli aja yang udah jadi. Terus dibumbuin. Kalau mau lebih ngirit, ngiris sendiri ya boleh.

    Terimakasih atas semangatnya ya……Aku belum pernah nih bikin kripik singkong pedas. Mendingan beli kripik yang sudah jadi ya? Aku juga nggak bisa kok nggoreng singkong renyah kayak gitu. Kalau beli yang sudah jadi, artinya harus nunggu ke toko Asia dulu. Thanks untuk masukannya ya….

    Reply
  29. enkoos said: Mbakyu, tetep semangat nggih. Ojo putus asa. Njajal bikin kripik singkong pedes. Kalau di Sumbar namanya kripik sanjai. Kripik singkongnya beli aja yang udah jadi. Terus dibumbuin. Kalau mau lebih ngirit, ngiris sendiri ya boleh.

    alo mbak, ini tika doa & sukses utk mbak sri

    Reply
  30. tikadk said: alo mbak, ini tika doa & sukses utk mbak sri

    Terimakasih sekali atas doa dan supportnya….it means a lot to me….

    Reply
  31. tikadk said: alo mbak, ini tika doa & sukses utk mbak sri

    Aku klw goreng kentang,pake fritur pan,cepet matengnya & nga terlalu banyak makan minyak,setelah klaar tinggal goreng bumbu,aduk,klaar deh…tetep semangat say,melakukan segala usaha emang butuh perjuangan,tapi klw dah ketemu selahnya,di jamin lancar,semoga succes & segera mendulang berlian…

    Reply
  32. ernies said: Aku klw goreng kentang,pake fritur pan,cepet matengnya & nga terlalu banyak makan minyak,setelah klaar tinggal goreng bumbu,aduk,klaar deh…tetep semangat say,melakukan segala usaha emang butuh perjuangan,tapi klw dah ketemu selahnya,di jamin lancar,semoga succes & segera mendulang berlian…

    Aku belum pernah goreng pake deep fryer. Mau nyoba kok rasanya muales banget, sudah kebayang duluan sulitnya. he…he…he…apalagi sekarang bisa pake chips, ya sudah makin nggak pengin nyoba lagi. hi…hi…hi…Thanks for your support….

    Reply
  33. ernies said: Aku klw goreng kentang,pake fritur pan,cepet matengnya & nga terlalu banyak makan minyak,setelah klaar tinggal goreng bumbu,aduk,klaar deh…tetep semangat say,melakukan segala usaha emang butuh perjuangan,tapi klw dah ketemu selahnya,di jamin lancar,semoga succes & segera mendulang berlian…

    baru baca lagi nih mbak…moga laris ya

    Reply
  34. bunda2f said: baru baca lagi nih mbak…moga laris ya

    Makasih sekali….makin banyak nih yang memberi dukungan, jadi semangat….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: