RSS Feed

Aku masih tetap orang Indonesia…

Posted on

Ketika Leo pulang kantor, dia ngelihat aku sedang mengupas kentang. Dia senyum-senyum:

“Home industry?”

Aku jawab iya. Maklum…pengin mencari sesuap berlian yang dulu pernah aku ceritakan di sini. Kali ini eksperimen lagi karena dulu sempat gagal. Dia bilang:

“I never realize kalau di rumahku akan ada home industry……”

“I am still an Indonesian…..ha…ha…ha…”

“That was what I wanted to say…….”

Ingatan kami back to several years ago ketika Leo pertama kali mengunjungiku di Indonesia. Waktu itu kami belum menikah. Dia terkagum-kagum dengan banyaknya tenda-tenda makanan di sepanjang jalan Margonda Raya Depok.

“My God….unbelievable……is this Indonesia? Tiap 10 meter kok ada tenda makanan. No wonder you cannot loose weight…..it is so easy for you to get food here……food….food….food everywhere…”

Emangnya Londo yang harus semuanya serba tertata, semua harus jadi anggota KvK (Kadinnya Belanda) bahkan untuk sektor informal di pasar, semua harus serba higienis, semua harus bayar pajak, buka warung harus ada ijin, buka warung harus punya diploma atau sertifikat tertentu, semua harus mengikuti peraturan, kalau nggak ngikutin peraturan kena denda.

Aku bilang sama Leo, kalau Indonesia harus ngikuti carané Londo, banyak orang akan kelaparan. Peraturan kok kaku banget, nggak fleksibel.

Yang bikin dia heran lagi adalah setiap kali ketemu teman, kerabat, sanak saudara pasti acaranya makan. Ketemu di Pasaraya makan, ketemu di rumah saudara disuguhi makan, ketemu di Sarinah makan lagi. Pokoknya makan, en makan, en makan nggak peduli lunch atau dinner. Sampai-sampai dia ngomong:

“Orang Indonesia kalau ketemu selalu acaranya makan-makan ya…..”

“Lha kalau enggak, terus ngapain coba?…..” Iya to?

Catatan: gambar yang aku pasang adalah gambaran sektor informal makanan yang aku ambil ketika kami ke Bandung.

82 responses »

  1. erm718 said: lha mangkane ipar2ku (sedulur2e bojo juga) podo sregep teko nek ono acara di tempatku, wis makanan akeh iso mbesek sisan… ha ha :))memange lunch utk wong londo itu kebanyakan roti/makanan yg tdk berat ya? dulu aku sempet kaliren tenan waktu tinggal di tempat sedulurku, lha wong biasane mangan sego esuk & awan, lha iki meng mangan roti & juga jarang nyamil…😦

    Lha kapan-kapan aku tak mampir nang NYC ben digawani besek. hua…ha…ha…Kalau Londo, pagi makan roti (bisa sama keju atau selai kacang atau selai coklat, atau selai strawberry atau sejenisnya deh). Siang yo podho wae, kuwi-kuwi wae. Bedane nek isuk roti keju, awan roti nganggo ham. Paling pol ditambahi slada, timun karo tomat. Lha paling top maneh rak yo ming cereal en pancake to? Atau mleset-mleset ontbijtkoek. Kalau makannya di kantin kadang masih ada sup (kalau musim winter). Di tempat kantinnya Leo kalau Jumat ada fish. Hari-hari biasa paling kantine yo dodolan bangsane kroket and bitterballen. Nek biasa lunch nganggo sego, wis jan kaliren tenan nang Londo. he…he…he…

    Reply
  2. laksmiharyanto said: Bukan hanya orang Indonesia, tapi orang Asia pada umumnya seperti itu, Sri. Bagi orang-orang Cina, makan adalah sesuatu hal yang penting. Mereka boleh tidak kaya, tapi untuk makan pada umumnya hidangan harus tetap “spesial” – meski nggak harus berarti mahal. Begitu juga dengan orang-orang Korea dan Jepang. Juga, orang-orang Asia pada umumnya. Di Eropa, biasanya orang-orang Perancis juga punya “hubungan istimewa” dengan makanan. Mereka bisa menghabiskan waktu yang relatif lebih lama untuk menikmati hidangannya. He-he-he…

    Memang betul orang Asia kayak gitu. Yang paling top menurutku adalah orang Thailand. Dulu waktu aku masih di NZ, students yang paling suka masak adalah orang Thai. Gile deh pokoknya. Kalau ada kumpul-kumpul antar mereka, satu orang bisa masak 2 makanan. Kalau yang ngumpul 4 orang, paling enggak ada 8 makanan di meja. Mending kalau itu snack doang. Ini jan yo main food. Kalau mahasiswa Indonesia yang ngumpul, biasanya 1 orang bawa 1 makanan. Kalau masak bareng variasi makanan bisa lebih sedikit daripada jumlah orang. Tapi tetep aja paling enggak 3 macem makanan pasti ada. Kalau ada kumpul-kumpul yang nyelenggarain orang Asia, makanannya top banget. Yang bule-bule secara tidak kentara pengin diundang soalnya mereka bisa ngrasain makanan macem-macem dan banyak. Kalau giliran bule yang ngundang (mau Amrik, mau Itali, mau NZ), yo paling-paling cuma BBQ. Leo pernah nanganin pekerjaan yang clientnya dari Perancis. Dia jan blas nggak sabar kalau clientnya mulai makan-makan. Wong pekerjaan banyak kok malah makan luama betul. Lha Londo setengah jam atau bahkan kurang yo cukup kok kalau cuma untuk lunch saja. Lha piye, sing siji makanan dianggap sebagai arts, yang lainnya makanan dianggap sekedar preventing from dying….Kalau soal makanan, di Asia yang jago ya dari China, Indonesia, Vietnam, Jepang, Korea, India. Paling enggak kuliner mereka sudah nginternasional…..

    Reply
  3. laksmiharyanto said: Bukan hanya orang Indonesia, tapi orang Asia pada umumnya seperti itu, Sri. Bagi orang-orang Cina, makan adalah sesuatu hal yang penting. Mereka boleh tidak kaya, tapi untuk makan pada umumnya hidangan harus tetap “spesial” – meski nggak harus berarti mahal. Begitu juga dengan orang-orang Korea dan Jepang. Juga, orang-orang Asia pada umumnya. Di Eropa, biasanya orang-orang Perancis juga punya “hubungan istimewa” dengan makanan. Mereka bisa menghabiskan waktu yang relatif lebih lama untuk menikmati hidangannya. He-he-he…

    mbaaa… jadi pengen makan batagor abis liat foto gerobaknya.. hahaha

    Reply
  4. laksmiharyanto said: Bukan hanya orang Indonesia, tapi orang Asia pada umumnya seperti itu, Sri. Bagi orang-orang Cina, makan adalah sesuatu hal yang penting. Mereka boleh tidak kaya, tapi untuk makan pada umumnya hidangan harus tetap “spesial” – meski nggak harus berarti mahal. Begitu juga dengan orang-orang Korea dan Jepang. Juga, orang-orang Asia pada umumnya. Di Eropa, biasanya orang-orang Perancis juga punya “hubungan istimewa” dengan makanan. Mereka bisa menghabiskan waktu yang relatif lebih lama untuk menikmati hidangannya. He-he-he…

    Mbak Sri, jadi ngebayangin seandainya tuh gerobak ada di Munich sini:))

    Reply
  5. laksmiharyanto said: Bukan hanya orang Indonesia, tapi orang Asia pada umumnya seperti itu, Sri. Bagi orang-orang Cina, makan adalah sesuatu hal yang penting. Mereka boleh tidak kaya, tapi untuk makan pada umumnya hidangan harus tetap “spesial” – meski nggak harus berarti mahal. Begitu juga dengan orang-orang Korea dan Jepang. Juga, orang-orang Asia pada umumnya. Di Eropa, biasanya orang-orang Perancis juga punya “hubungan istimewa” dengan makanan. Mereka bisa menghabiskan waktu yang relatif lebih lama untuk menikmati hidangannya. He-he-he…

    berarti jarene umar kayam yen “mangan ra mangan ngumpul” wis ra berlaku ya mbak? Ganti yen ngumpul yo mesti mangan…

    Reply
  6. estherlita said: lha sekarang aku pengen tau kalau bule kalau ngumpul ngapain ajah kalau gak makan ?laper dong…

    bule kalau ngumpul, obral abab mbak. hehehehehe….alias ngomonggggggg thok. Paling banter makan snack. Lah mana kenyang. Sering banget aku sepulangnya dari undangan makan2, di rumah makan lageeee dengan porsi kuli. Lha wong makanannya nggak mengenyangkan dan rasanya juga – nuwun sewu – ra ngalor ra ngidul.

    Reply
  7. estherlita said: lha sekarang aku pengen tau kalau bule kalau ngumpul ngapain ajah kalau gak makan ?laper dong…

    Kayaknya ketemuan en makan di Indo tuh dah wajibun hukumnya mbak:-) Gak kebayang ngobrol lama tp cuman makan snack haduuuuuuuuuuuh gak wareg yoo hehehehehe…….

    Reply
  8. estherlita said: lha sekarang aku pengen tau kalau bule kalau ngumpul ngapain ajah kalau gak makan ?laper dong…

    Mbak, seru2 ya mbaca reply-an temen2 disini.Menurut pengamatanku – diliat dari reply-an temen2 disini – yang bojonya Londo rata2 sudah bisa memahami budaya makannya orang Indonesia. Kebanyakan malah ketularan karena emang yang pegang kendali dapur adalah para istri. Ilate bojoku sudah terkontaminasi makanan Indonesia sehingga kalau kami mudik ikut2an merindukan makanan kampung yang disini nggak ada, kayak es degan, ikan bakar, soto ayam, sego pecel.Beberapa bisa sih bikin sendiri, tapi suasananya yang marung (lungguh neng warung) itu lho yg terasa beda.

    Reply
  9. estherlita said: lha sekarang aku pengen tau kalau bule kalau ngumpul ngapain ajah kalau gak makan ?laper dong…

    No wonder you cannot loose weight…..it is so easy for you to get food here……food….food….food everywhere…——————————–bwahahaha banget deh untuk yg ini…. lha gimana ya… ngemil is a part of our daily life…Aku kalo pindah ke Londo..kira2 bakal jadi langsing dadakan gak ya? Kan beli makanan terhitung mahal2… gak ada gorengan seribu dapat tiga, ga ada combro, serabi, somay, kue pancong, pukis, apem, dawet ayu, singkong kedju, ceriping singkong 1000-an… waaaahhhh iso mecakut tenan…Bener2 kejadian Garfield Diet is Die with a ‘T’… hahaha…

    Reply
  10. estherlita said: lha sekarang aku pengen tau kalau bule kalau ngumpul ngapain ajah kalau gak makan ?laper dong…

    Hahahaha….we are Indonesian…

    Reply
  11. ningnong said: mbaaa… jadi pengen makan batagor abis liat foto gerobaknya.. hahaha

    Lha kamu masih bisa makan batagor Ning…aku haru bikin sendiri kalau kepingin. hiks…hiks…hiks…

    Reply
  12. zubiayusuf said: Mbak Sri, jadi ngebayangin seandainya tuh gerobak ada di Munich sini:))

    Gimana kalau bikin gerobak sendiri dan jualan batagor di Munich? hi…hi…hi…

    Reply
  13. haleygiri said: berarti jarene umar kayam yen “mangan ra mangan ngumpul” wis ra berlaku ya mbak? Ganti yen ngumpul yo mesti mangan…

    Lha pancen kok. Wong Indonesia kuwi nek ngumpul mesti ono pangananné (tur yo macem-macem biasané), mbok yo kuwi mung singkong rebus, pisang goreng, tahu goreng biasané ono. Nek ora ono, diragukan ke-Indonesia-annya. ha…ha…ha…

    Reply
  14. enkoos said: bule kalau ngumpul, obral abab mbak. hehehehehe….alias ngomonggggggg thok. Paling banter makan snack. Lah mana kenyang. Sering banget aku sepulangnya dari undangan makan2, di rumah makan lageeee dengan porsi kuli. Lha wong makanannya nggak mengenyangkan dan rasanya juga – nuwun sewu – ra ngalor ra ngidul.

    ha…ha…ha….aku mbiyen pernah ke tempat orang Belanda. Berhubung sudah siang, diajak makan siang. Lha tak pikir wong yo ngundang makan siang, paling ora yo rodo piye ngono yo suguhané. Tibaké yo ming roti thok kaé lho. Pilihan lawuhé: keju, hagelslag, pindakaas, karo selai coklat. Lha opo bedané breakfast coba? Podho waé to mereka kuwi menu breakfast karo lunch?

    Reply
  15. lelyimoetzz said: Kayaknya ketemuan en makan di Indo tuh dah wajibun hukumnya mbak:-) Gak kebayang ngobrol lama tp cuman makan snack haduuuuuuuuuuuh gak wareg yoo hehehehehe…….

    Betul…nggak wareg blas babar pisan. he…he..he…

    Reply
  16. andracharoen said: bwahahaha banget deh untuk yg ini…. lha gimana ya… ngemil is a part of our daily life…Aku kalo pindah ke Londo..kira2 bakal jadi langsing dadakan gak ya? Kan beli makanan terhitung mahal2… gak ada gorengan seribu dapat tiga, ga ada combro, serabi, somay, kue pancong, pukis, apem, dawet ayu, singkong kedju, ceriping singkong 1000-an… waaaahhhh iso mecakut tenan…Bener2 kejadian Garfield Diet is Die with a ‘T’… hahaha

    Lha kok malah ngabsen panganan. Aku durung lunch iki, kok malah dipamerin panganan macem-macem. Orang Belanda itu pada dasarnya males masak. Saking malesnya, yang namanya snack buatan pabrik atau skala industri buanyak banget dan relatif murah (kalau bikin sendiri jauh lebih mahal). Misalnya bolu gulung wae regané ming sak yuro. Penampilannya juga menarik. Bisa dilihat di sini contohnya:http://cutyfruty.multiply.com/journal/item/33/Tips_mengatasi_amblegnya_pembuatan_chocolate_roll….atau di sini:http://cutyfruty.multiply.com/photos/album/11/Foto_bolu_gulung_coklatItu harganya cuma 1 Euro. Tapi ya jangan tanya rasanya. Ora enak menurutku….

    Reply
  17. enkoos said: Mbak, seru2 ya mbaca reply-an temen2 disini.Menurut pengamatanku – diliat dari reply-an temen2 disini – yang bojonya Londo rata2 sudah bisa memahami budaya makannya orang Indonesia. Kebanyakan malah ketularan karena emang yang pegang kendali dapur adalah para istri. Ilate bojoku sudah terkontaminasi makanan Indonesia sehingga kalau kami mudik ikut2an merindukan makanan kampung yang disini nggak ada, kayak es degan, ikan bakar, soto ayam, sego pecel.Beberapa bisa sih bikin sendiri, tapi suasananya yang marung (lungguh neng warung) itu lho yg terasa beda.

    Podho, bojoku wis tak sulap dadi wong Jowo. Tiap hari makan nasi. Makan kentang 2 kali….per tahun. he…he…he…Lha piye, dia jan blas nggak suka makanan tradisional Londo kayak stamppot, zuurkol dan sejenisnya…

    Reply
  18. oentung said: Hahahaha….we are Indonesian…

    Yang artinya kalau ketemu: MAKAN-MAKAN…..he…he…he…

    Reply
  19. cutyfruty said: Makan kentang 2 kali….per tahun. he…he…he…Lha piye, dia jan blas nggak suka makanan tradisional Londo kayak stamppot, zuurkol dan sejenisnya…

    Bhuahahaha….wis jiannn ini yg namanya udah keracunan tenan.Lha wong emang sih ya, kebanyakan makanan Asia kaya dengan bumbu, sehingga makanan jadi lebih terasa nendang dan nggak mboseni.

    Reply
  20. cutyfruty said: Makan kentang 2 kali….per tahun. he…he…he…Lha piye, dia jan blas nggak suka makanan tradisional Londo kayak stamppot, zuurkol dan sejenisnya…

    mbak aduh itu tukang batagor nya meuni bikin mata melotot, segitu baru liat gerobak nya doang hehehehe

    Reply
  21. enkoos said: Bhuahahaha….wis jiannn ini yg namanya udah keracunan tenan.Lha wong emang sih ya, kebanyakan makanan Asia kaya dengan bumbu, sehingga makanan jadi lebih terasa nendang dan nggak mboseni.

    Memang betul masakan Asia biasané miroso. Tapi orang Belanda sendiri memang lidahnya sangat internasional, bisa makan semua masakan dari berbagai negara…..

    Reply
  22. squishsquash said: mbak aduh itu tukang batagor nya meuni bikin mata melotot, segitu baru liat gerobak nya doang hehehehe

    Lihat gerobaknya doang saja sudah gitu ya…gimana kalau ngelihat piringnya….hi…hi…hi…

    Reply
  23. squishsquash said: mbak aduh itu tukang batagor nya meuni bikin mata melotot, segitu baru liat gerobak nya doang hehehehe

    hai sri, memanglah indonesia memang rajanya makan makan. makanya kita bela belain repot buat masak, bedalah sama orang belanda. lagian di indonesia, mau pasang warung / tenda, kadang tanpa izin dan main pasang aja, kalo di sini, coba aja berani pasang tenda gak pake izin..hehehehe… urusan bisa panjang.. anyway, semoga sukses bisnisnya yah.. semoga berhasil.. kali aja ntar dimana mana gue bisa nemu : keripik kentang gemaakt door mevrouw Sri Fon…🙂 .. jangan lupain gue yah,kalo ntarnya bakal beken…🙂 take care and nice weekend.

    Reply
  24. cutyfruty said: Lihat gerobaknya doang saja sudah gitu ya…gimana kalau ngelihat piringnya….hi…hi…hi…

    Kalo liat piring nya bisa langsung gemeteran mbak hihih, trus kalo piring plus isinya langsung pengsan deh hahaha

    Reply
  25. sufiyahni said: hai sri, memanglah indonesia memang rajanya makan makan. makanya kita bela belain repot buat masak, bedalah sama orang belanda. lagian di indonesia, mau pasang warung / tenda, kadang tanpa izin dan main pasang aja, kalo di sini, coba aja berani pasang tenda gak pake izin..hehehehe… urusan bisa panjang.. anyway, semoga sukses bisnisnya yah.. semoga berhasil.. kali aja ntar dimana mana gue bisa nemu : keripik kentang gemaakt door mevrouw Sri Fon…🙂 .. jangan lupain gue yah,kalo ntarnya bakal beken…🙂 take care and nice weekend.

    Orang Indonesia memang dimanja betul oleh makanan. Di rantau orang Indonesia yang nggak bisa masakpun berusaha untuk belajar masak supaya ilang kangennya sama makanan. Beda sama orang Belanda, variasi makanannya kan bisa dibilang gitu-gitu aja. Thanks for your support ya. Ya siapa tahu memang jalanku di bisnis makanan, nggak tahu dalam bentuk apa.

    Reply
  26. squishsquash said: Kalo liat piring nya bisa langsung gemeteran mbak hihih, trus kalo piring plus isinya langsung pengsan deh hahaha

    Ha…ha…ha…piring saja bisa bikin gemetaran……

    Reply
  27. squishsquash said: Kalo liat piring nya bisa langsung gemeteran mbak hihih, trus kalo piring plus isinya langsung pengsan deh hahaha

    Komen dari teman diatas sungguh menarik, ya Sri. Seperti mantu saya sebelumnya hanya makan roti seperti Leo dan bule2 lainya, tidak ada variasi lainya kecuali roti. Sekarang kawin dengan anak saya, menyebabkan culture roti waktu lunch dan dinner berubah menjadi Chinese, Japan, Indonesian, Indian, Vietnam, Thailand food. Jadi makanan menjadi globalisasi. Rasanya sudah berubah ada asam, manis, asin, dan ditambah terutama pedas. Hanya durian, terasi dan petis belum suka. Memang orang Indonesia kalau belum makan nasi rasanya belum makan.

    Reply
  28. ellytjan said: Komen dari teman diatas sungguh menarik, ya Sri. Seperti mantu saya sebelumnya hanya makan roti seperti Leo dan bule2 lainya, tidak ada variasi lainya kecuali roti. Sekarang kawin dengan anak saya, menyebabkan culture roti waktu lunch dan dinner berubah menjadi Chinese, Japan, Indonesian, Indian, Vietnam, Thailand food. Jadi makanan menjadi globalisasi. Rasanya sudah berubah ada asam, manis, asin, dan ditambah terutama pedas. Hanya durian, terasi dan petis belum suka. Memang orang Indonesia kalau belum makan nasi rasanya belum makan.

    Betul tante, masakan Asia pada umumnya bervariasi. Leo sudah saya sulap jadi Jawa, tante. Hampir tiap hari saya kasih nasi. Kalau durian memang karena saya juga kurang suka dan nggak makan, jadi ya dia nggak pernah saya kasih durian.

    Reply
  29. ellytjan said: Komen dari teman diatas sungguh menarik, ya Sri. Seperti mantu saya sebelumnya hanya makan roti seperti Leo dan bule2 lainya, tidak ada variasi lainya kecuali roti. Sekarang kawin dengan anak saya, menyebabkan culture roti waktu lunch dan dinner berubah menjadi Chinese, Japan, Indonesian, Indian, Vietnam, Thailand food. Jadi makanan menjadi globalisasi. Rasanya sudah berubah ada asam, manis, asin, dan ditambah terutama pedas. Hanya durian, terasi dan petis belum suka. Memang orang Indonesia kalau belum makan nasi rasanya belum makan.

    mangan ora mangan pokoke mangan ya Sri. hahahaha….

    Reply
  30. elkaje said: mangan ora mangan pokoke mangan ya Sri. hahahaha….

    Betul…orang Indonesia sih demen banget makan makanan enak. Kalau perlu singkong wae disulap jadi cake mewah. Ora koyo Londo, ora kreatip panganané. Mereka sebetulnya punya berbagai macam kue, tapi jan blas ora berkembang. Apalagi traditional main menu mereka, mboseni. Leo wae ora doyan kok traditional Dutch food kayak stamppot zuurkol. Makanya aku bingung sama orang Indonesia yang memuja panganané Londo. Lha wong nang Londo wae ora berkembang. Di sini orang nggak suka masak. Yang mengambil keuntungan ya perusahaan roti atau kue, mereka bisa memproduksi dengan skala gede, skala industri dan ini laku keras karena orang Belanda nggak suka masak.

    Reply
  31. elkaje said: mangan ora mangan pokoke mangan ya Sri. hahahaha….

    Kumpul2x ala Indo klw nga makan kurang afdol…klw wong londo kumpul2x yg penting minum bir nga makan nga opo2x..

    Reply
  32. ernies said: Kumpul2x ala Indo klw nga makan kurang afdol…klw wong londo kumpul2x yg penting minum bir nga makan nga opo2x..

    Betul setuju. Londo minum bier thok cukup. Kalau kita sih lain ya. Nggak afdol kalau ngumpul, apalagi jarig, nggak makan-makan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: